Om awignamastu Namo Siddham.
Bahagia adalah sesuatu yang diidam-idaman oleh semua mahluk dan merupakan permata yang dimiliki oleh semua mahluk dan kadang tidak disadari keberadaannya sehingga dicari dimana-mana. Seperti pepatah kuno yang mengatakan ketika memikul air masih sibuk mencari sungai.
Hati merupakan tempat bersemayam rasa bahagia tersebut, tetapi akses untuk mencapai sumber tersebut banyak yang tidak sampai. Hal ini disebabkan karena pikiran sebagai alat / sarana untuk menuju ke sumber tersebut gagal mencapai, disebabkan oleh beban ke egoan yang memperlambat akses dan kegelapan pikiran karena selalu berpikir tidak selaras dengan hati.
Menurut sastra hindu Buddha, yang sering dituturkan oleh para bijaksana ada 4 jalan menemukan kebahagiaan tersebut yang di sebut dengan Catur Paramitha, yang penjabarannya sebagai berikut :
1. Meitri (cinta)
didalam pikiran, hendak ditumbuh kembangkan keyakinan bahwa semua mahluk mencintai kita, keberadaan kita sekarang ini hingga bisa berada pada posisi sekarang ini tidak bisa dilepaskan oleh rasa cinta dari semua mahluk. ada cinta yang tulus dari orang tua yang mendidik dan membesarkan kita, ada cinta dari paramedis yang mengobati kita ketika kita sakit, ada cinta guru yang memberikan kita pengajaran, ada cinta dari petani dan nelayan yang memberi kita makan, ada cinta dari petugas pompa bensin ketika melayani kita membeli bensin untuk tranportasi kendaraaan sehingga sampai ditujuan dan cinta dari yang lainnya, sehingga akan menimbulkan rasa syukur bahwa keberadaan kita tidak lepas dari sokongan semuannya. walaupun motif awal semuanya ada kalanya seseorang melakukan demi uang, atau jabatan atau mungkin maksud maksud tertentu, dan terlepas dari itu bahwa yakinlah dalam segenap kegiatan tersebut jauh didalam hati terdapat sumber cinta yang tersembunyi yang menggerakkan yaitu atma sebagai sumber cinta yang merupakan esensi dari Tuhan / Brahman itu sendiri. Dengan selalu bersyukur atas bantuan orang lain maka akan menimbulkan rasa kebahagiaan yang muncul hati kita.
2. Karuna (Kasih Sayang)
Mengembangkan sikap peduli terhadap penderitaan mahluk, sehingga akan selalu membantu penderitaaan mahluk. sebagai mahluk ciptaaan Tuhan didunia ini penderitaan adalah wajib hukumnya. Jika melihat orang sakit, tumbuhkanlah rasa Emphati kita. Bahwa suatu saat kitapun bisa sakit dan perlu pertolongan orang lain, kita kita melihat orang sakit sebenarnya Tuhan mengingatkan kita bahwa kitapun suatu saat tidak akan bisa terlepas dari sakit. ketika melihat orang tua hendaknya kitapun menyadari suatu saat kitapun akan menjadi tua, ringkih dan tak berdaya dan semasih kita kuat dan mempunyai kesempatan untuk peduli maka pedulilah, hingga dapat menimbulkan rasa bersyukur dan berterima kasih bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk sehat, kuat dan masa muda yang bisa dipergunakan dengan sebaik mungkin sebelum kita nanti lemah tergolek tak berdaya.
3. Mudita (gembira meilhat orang lain senang).
Pikiran kita hendaknya kita latih untuk gembira melihat orang lain senang, hal ini dapat menimbulkan kebahagiaan buat kita karena orang lain secara tidak sengaja telah berbagi kebahagian dengan kita tanpa kita sadari. dengan ikut bergembira secara langsung akan menimbulkan rasa senang sehingga dapat membuat kita lebih awet muda dan lebih sehat disebabkan peredaraan darah kita menjadi lebih baik.
Misalnya ketika ada teman yang sukses, hendaknya kita ikut bersyukur atas kesuksesannya tersebut. Dengan bersyukur maka dalam pikiran kita dan alam bawah sadar kita kekuatan pikiran akan mempengaruhi jiwa kita untuk ikut bisa sukses. walaupun mungkin kita tidak langsung sukses, mungkin sukses nantinya bisa dinikmati oleh anak cucu kita hal ini disebabkan oleh kekuatan pikiran yang merupakan doa yang sangat ampuh tanpa pernah disadari. Dengan Kesuksesan yang nanti kita peroleh maka secara langsung bisa menimbulkan kesenangan dan kebahagiaaan. Rasa iri hati akan mengacaukan metabolisme tubuh kita dan membuat kita susah serta mendoakan diri kita untuk menjadi buruk dan tidak bahagia.
4. Upeksa (keseimbangan Lahir batin)
dalam menembangkan keseimbangan ini hendaknya kita memandangkan bahwa sgala sesuatu yang menimpa kita, baik itu hal baik maupun yang buruk merupaka kehendak dari Tuhan/ Hyang widhi dan sebab akibat dari siklus karma kita. jika kita ditimpa kemalangan kalaupun kalau kita harus marah atau kesal toh tidak akan berguna dan malahan mengacaukan metabolisme tubuh dan membuat kita tambah susah, seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Alangkah baiknya kita berdoa dan bersyukur agar kemalangan ini cepat selesai dan melihat disekeliling kita dan menyadari bahwa banyak juga yang mengalami kemalangan seperti kita dan mungkin kemalangannya lebih parah.
dan kalaupun kita mendapat kesenangan jangan terlalu bergembira, dan tetaplah berdoa agar kegembiraaan ini tidak berakhir dengan derita, apalagi derita yang berkepanjangan.
Karena sebagai mahluk hidup suka dan duka itu selalu berdampingan di dunia ini, dan merupakan kehendak dari Hyang Parama Dumadi.
Om shantih shantih shantih Om
zaman sekarang dalam hindu disebut zaman kali atau zaman gelap. dan memang pada zaman sekarang kehendak beliau memang banyak yang berbuat adharma secara kuantitas. dan itu tidak perlu di persusah karena memang kehendak beliau dan tidak ada yang bisa merubah sekenario. yang penting khan sudah sudah tau hukum sebab akibat (karma phala), tapi yang sebenarnya patut disyukuri, di zaman kali sangat gampang bisa berbuat baik karena banyak diberi kesempatan. dan jika zaman susah atau kacau, sedikit saja anada berbuat baiknilainya akan sangat mahal karena sangat jarang ada yang berbuat baik. Kejahatan memang diperlukan sebagai stana dari kebaikan. jika semua baik buat apa ada polisi, rohaniawan, pahlawan dsbnya. Untuk menarik kebaikan itu datang, memang diperlukan kejahatan/kesusahan sebagai penyeimbang dalam kehidupan. sebagaimana gelap yang memerlukan pelita, malam yang memerlukan bintang dan rembulan, Rama yang memerlukan Rahwana, Pandawa yang memerlukan Korawa agar kisah kehidupan didunia ini bisa berjalan.
Dalam hindu tidak ada istilah kiamat, mungkin lebih tepatnya pralaya atau daur ulang kehidupan. Pralaya yang kecil mungkin terjadi jika kita meninggal maka disebut pralaya. mungkin yang lebih besar sedikit seperti meninggal secara masal karena bencana alam tapi kalau pralaya pemusnahan bumi atau alam semesta masih sangat jauh, dan tidak perlu khawatir, tapi pralaya kecil waktu kita kembali ke beliau tapi kita tak pernah kembali karena masih terjebak dalam reinkarnasi yang perlu dikhawatirkan.
Dalam sastra Ciwa buddha disebutkan ciri ciri pralaya agung, nanti akan ada kekacauan tatasurya hingga nanti tata surya kita akan mempunyai dua matahari karena ada matahari dari tatasurya yang lainnya melenceng ke tatasurya kita, sehingga tidak akan ada malam dan akan ada siang terus sehingga bumi akan semakin panas, dan makin banyak ada matahari yang melenceng hingga matahari nanti ada tujuh yang akam melelehkan alam semesta dan kembali ke brahman. dan itu masih sangat berlangsung lama. jadi tidak perlu mengkhawatirkan bhuana agung tapi yang perlu dikhawatirkan adalah buana alit atau diri kita sendiri, supaya kita kalau dapat pralaya alit / kecil kita sudah siap menerima. ok
Oleh: subagiartha on Februari 24, 2009
at 7:45 am