Dalam ritual hindu jyotir banyak kita temui sebagai lambang dalam penerangan dalam setiap upacara/ ritual. Jyotir dibali dalam bebantenan berbentuk lampu sentir yang terbuat dari kapas diisi minyak kelapa dalam wadah coblong dari tanah liat. Pada saat upacara otonan kadang-kadang kita jumpai juga jyotir ini dimaksudkan agar yang diotonkan dijauhkan dari kegelapan pikiran / jiwa dan memperoleh keselamatan ( api sebagai sarana untuk membakar segala kekotoran yang menyebabkan halangan ). Disamping jenazah orang yang meninggal juga ditempatkan jyotir sebagai penerangan untuk sang roh, disamping itu pada saat upacara nyekah / memukur jyotir berubah wujud menjadi damar kurung.
Bagi yang memakai Raja marga, Jyotir ini mutlak diperlukan untuk penerangan jiwa pada saat melaksanakan meditasi. Para guru biasanya menyuruh melakukan sesuatu agar dihati para murid terdapat jyotir tanpa murid mengetahui maksudnya disebabkan sang guru lebih banyak berkeinginan sang murid menemukan maksudnya dengan sendirinya tidak sebatas teori. Biasanya ada yang menyuruh meditasi memandangi lilin, atau memandangi matahari terbit atau memandangi sumber cahaya lainnya. Dengan bagusnya Jyotir berstana dihati menerangi prisma tempat sang jiwa niscaya penglihatan ketika bermeditasi bisa lebih jelas karena penerangan sudah ada.
Fungsi jyotir berbeda dengan fungsi pasepan/dupa, asap dupa berfungsi sebagai sarana penghantar doa/permohanan kehadapan para dewa atau Ida sang Hyang Widhi Wasa agar permohonanan bisa terkabul.