Oleh: subagiartha | Agustus 17, 2008

Homa Yadjna yang menggeliat

Pemujaaan dengan api suci dibali sempat mengalami masa-masa paceklik sesudah masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Hanya situs-situs homa sajalah yang dapat kita jumpai dibali, salah satu diantaranya di Pura Kehen Bangli. Memang beberapa tempat masih ada yang melestarikan tradisi yang ada seperti di Desa Bestala pada masa penjajahan hingga masa kemedekaaan.
Perkembangan yang menggembirakan bahwa beberapa sampradaya yang masuk dan berkembang di Bali kembali mengingatkan dan mengaktipkan ritual homa ini kembali, hingga perlahan-lahan homa yang fungsinya terbatas dalam wujud pasepan dapat dikembangkan kembali menjadi bentuk aslinya. Dalam Bhagawad Gita, Sri Krsna sebagai reinkarnasi dari Wisnu bersabda diantara semua yadjna aku adalah Homa. Homa merupakan jalan toll yadjna kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kadang-kadang masyarakat sendiri menilai Homa yadjna ini aneh, ke india-indian, atau kadang kala bingung apa bedanya dengan agni hotra? banyak mantra? ribet atau bahkan mengganggap remeh karena kelihatan upacaranya mungkin terlalu simpel apakah bisa mencapai tujuannya ? Homa yadjna dan agni hotra bisa dikatakan hampir sama, perbedaannya terletak pada pendeta / brahminnya saja. Jika agni hotra memakai Dewa Agni sebagai pendeta, dan persembahannya dipersembahkan ke Agni atau ke dewa-dewa yang lain atau ke Tuhan itu sendiri sesuai dengan permohonannya, sedang Homa Yadnya, pendetanya salah satu Ista Dewata dan persembahannya pada Ista Dewata tersebut. Ada yang melaksanakan Homa dan Agni Hotra dengan mantra adapula yang dengan meditasi sambil menghaturkan persembahan ke api suci. Dan yang tersulit dalam homa/agni hotra adalah pada waktu Agni Pratistha/ Dewa Pratistha (menstanakan Dewa Agni/Ista Dewata diapi suci) agar kita yakin bahwa pendetanya sudah benar-benar berstana disana. Jadi diperlukan yang memliki kesucian yang cukup untuk memimpin upacara tersebut supaya dapat diyakinkan bahwa pendetanya sudah berstana sehingga permohonan kita dapat nanti dikabulkan. Entah diketahui dengan merasakan kehadiran beliau ataupun dengan melihat kehadiran beliau lewat mata ajna cakra.
Dalam Ithasa hasil dari homa juga dimuat, seperti lahirnya Rama, Laksmana, bharata dan Sastregna dari homa kepada Dewa Sawita. Begitupula lahirnya Drupadi dan Drestajumna lewat homa yang dimohonkan oleh Raja Drupada agar memperoleh putra supaya dapat mengalahkan Rsi Drona.
Selain dapat memberikan vibrasi yang baik bagi lingkungan tempat dilaksanakannya homa, homa dapat menjadi media untuk peningkatan spritual, kesuksesan didunia maupun membebaskan leluhur dari karma buruknya. Misalnya ketika ngaben dan nyekah telah selesai hingga ngelinggihan , kadang-kadang sentananya masih ditimpa kemalangan yang katanya bersumber dari leluhur. Homa dapat menjadi salah satu jalan alternatif.
Mungkin dari teman-teman para praktisi homa ada yang memberi saran/ revisi tentang homa ditunggu partisipasinya


Beri tanggapan

Your response:

Kategori